Kamis, 22 Mei 2008

Apa Itu ISLAM

| Kamis, 22 Mei 2008 | 0 komentar

1. Dari Segi Bahasa

Islam berasal dari ASLAMA YUSLIMU ISLAMAN Artinya :

- Ketaatan dan kepatuhan
- Kedamaian dan keamanan
- Melepaskan diri dari penyakit lahir dan batin

Penjelasannya:

a) Ketaatan dan kepatuhan
Salah satu arti Islam adalah ketaatan dan kepatuhan. Kaitan arti Islam ini adalah dalam berhubungan dengan Alloh (hablum minalloh). Jadi yang dimaksud dengan ketaatan dan kepatuhan di sini adalah ketaatan dan kepatuhan kepada Alloh. Wujud dari ketaatan dan kepatuhan kepada Alloh adalah menuruti segala perintah Alloh dan menjauhi segala larangan Alloh.

b) Kedamaian dan keamanan
Salah satu arti Islam adalah kedamaian dan keamanan. Kaitan arti Islam ini adalah dalam berhubungan sesamam manusia dan lingkungan hidup. Jadi Islam turun untuk mendatangkan kedamaian dan keamanan bagi manusia dan lingkungan hidup. Prilaku-prilaku islami adalah prilaku-prilaku yang mendatangkan kedamaian dan keamanan bagi manusia dan lingkungan hidup.

c) Melepaskan diri dari penyakit lahir dan batin
Kaitan arti Islam ini adalah dalam berhubungan dengan diri sendiri. jadi yang dimaksud dengan melepaskan diri dari penyakit lahir dan batin adalah melepaskan diri dari penyakit lahir dan batin manusia itu sendiri.
Penyakit lahir yaitu perbuatan-perbuatan lahir yang tidak baik (dosa) yang biasa dilakukan.
Penyakit batin yaitu penyakit hati atau sikap dan perbuatan hati yang tidak baik (dosa).
Islam menuntut pada manusia agar selalu melepaskan diri dari penyakit lahir dan batin.

Dari ketiga arti tersebut, kehadiran Islam di dunia ini yang inti adalah untuk menjadikan manusia bersih lahir dan batinnya, hanya menyembah Alloh dan prilaku hidupnya mendatangkan kedamaian dan keamanan bagi sesama manusia dan lingkungan hidupnya.

2. Dari Segi Istilah

Islam adalah agama samawi (langit) yang diturunkan oleh Alloh SWT melalui utusan-Nya, Muhammad SAW, yang ajaran-ajarannya trdapat dalam kitab suci Al Qur'an dan sunnah dalam bentuk perintah-perintah, larangan-larangan dan petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Penjelasannya:
- Agama Islam adalah agama yang berasal dari Alloh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan disampaikan kepada umat manusia.
- Ajaran-ajaran agama Islam terdapat dalam Al Qur'an dan Al Hadits.
- Isi dari ajaran-ajaran Islam merupakan petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat.
- Jadi Alloh menurunkan agama Islam adalah untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat. Dengan demikian agama Islam adalah agama yang mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat.

3. Berdasarkan Sabda Nabi SAW

Umar bin Khothob r.a. berkata: Ketika kami berada di sisi Rosululloh SAW, tiba-tiba kami didatangi oleh seorang laki-laki yang sangat putih bajunya dan sangat hitam rambutnya, hingga tak kelihatan pada dirinya bekas perjalanan yang melelahkan. Tidak seorangpun dari kita mengenalnya, sehingga ia duduk di samping Nabi SAW dan kedua lututnya disandarkan pada lutut Nabi. Kedua tangannya diletakkan di atas kedua lutut Nabi sambil menanyakan:

Yaa Muhammad, mal islaam?

Artinya: Ya Muhammad, apakah Islam itu?

Maka Nabi SAW menjawab:
Al islaamu antsyhada anlaa ilaaha illallahi wa anna muhammadar rosuulullahi wa tuqiimus sholat wa tu'tiz zakaata wa tasuuma romadhoona wa tahajjul baita inistatho'tu ilaihi sabiila

Artinya:
Islam itu adalah:
- Hendaklah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan yang patut disembah melainkan Alloh dan bahwa sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh.
- Dan hendaklah kamu mendirikan sholat
- Dan hendaklah kamu memberikan zakat.
- Dan hendaklah kamu berpuasa di bulan romadhon
- Dan hendaklah kamu mengerjakan haji ke Baitulloh kalau kamu dapat menjalankannya jika mampu)

Laki-laki itu berkata: "Engkau benar."

Maka kami heran padanya, ia menanya Nabi SAW (seakan-akan ia belum tahu) dan ia membenarkannya (seperti orang yang tahu).
Laki-laki itu bertanya lagi tentang iman dan ihsan dst.
Setelah peristiwa itu, Umar berkata: "Lalu lama saya diam."
Kemudian beliau (Nabi) bertanya: "Ya Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya itu?"
Kataku: "Alloh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."
Nabi bersabda: "Sesungguhnya itu Jibril. Ia datang kepadamu untuk mengajarmu tentang agamamu." (HR Muslim)

Penjelasannya:
Jawaban Nabi atas pertanyaan malaikat Jibril tentang Islam. Itu adalah pokok-pokok Islam atau dikenal dengan rukun Islam. Islam sebenarnya bukan cuma itu. Tapi yang pokok adalah itu.
Kalau kita mau mengamalkan Islam, mulailah dari yang pokok itu dan dikerjakan dengan sebenar-benarnya. Insya Alloh nantinya akan berkembang dan akhirnya berjalan menuju ke kesempurnaan Islam yaitu ajdi muslim kaffah (total).

Readmore..

Rabu, 21 Mei 2008

PENUNTUT ILMU TIDAK BOLEH FUTUR

| Rabu, 21 Mei 2008 | 0 komentar

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas



Seorang penuntut ilmu tidak boleh futur dalam usahanya untuk memperoleh dan mengamalkan ilmu. Futur yaitu rasa malas, enggan, dan lamban dimana sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh, dan penuh semangat.

Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i, dan penuntut ilmu. Sehingga seseorang menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan aktivitas kebaikan.

Orang yang terkena penyakit futur ini berada pada tiga golongan, yaitu:

1). Golongan yang berhenti sama sekali dari aktivitasnya dengan sebab futur, dan golongan ini banyak sekali.

2). Golongan yang terus dalam kemalasan dan patah semangat, namun tidak sampai berhenti sama sekali dari aktivitasnya, dan golongan ini lebih banyak lagi.

3). Golongan yang kembali pada keadaan semula, dan golongan ini sangat sedikit. [1]

Futur memiliki banyak dan bermacam-macam sebab. Apabila seorang muslim selamat dari sebagiannya, maka sedikit sekali kemungkinan selamat dari yang lainnya. Sebab-sebab ini sebagiannya ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.

Di antara sebab-sebab itu adalah.

1). Hilangnya keikhlasan.
2). Lemahnya ilmu syar’i.
3). Ketergantungan hati kepada dunia dan melupakan akhirat.
4). Fitnah (cobaan) berupa isteri dan anak.
5). Hidup di tengah masyarakat yang rusak.
6). Berteman dengan orang-orang yang memiliki keinginan yang lemah dan cita-cita duniawi.
7). Melakukan dosa dan maksiyat serta memakan yang haram.
8). Tidak mempunyai tujuan yang jelas (baik dalam menuntut ilmu maupun berdakwah).
9). Lemahnya iman.
10). Menyendiri (tidak mau berjama’ah).
11). Lemahnya pendidikan. [2]

Futur adalah penyakit yang sangat ganas, namun tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Dia pun menurunkan obatnya. Akan mengetahuinya orang-orang yang mau mengetahuinya, dan tidak akan mengetahuinya orang-orang yang enggan mengetahuinya.

Di antara obat penyakit futur adalah.

1). Memperbaharui keimanan.
Yaitu dengan mentauhidkan Allah dan memohon kepada-Nya agar ditambah keimanan, serta memperbanyak ibadah, menjaga shalat wajib yang lima waktu dengan berjama’ah, mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib, melakukan shalat Tahajjud dan Witir. Begitu juga dengan bersedekah, silaturahmi, birrul walidain, dan selainnya dari amal-amal ketaatan.
2). Merasa selalu diawasi Allah Ta’ala dan banyak berdzikir kepada-Nya.
3). Ikhlas dan takwa.
4). Mensucikan hati (dari kotoran syirik, bid’ah dan maksiyat).
5). Menuntut ilmu, tekun menghadiri pelajaran, majelis taklim, muhadharah ilmiyyah, dan daurah-daurah syar’iyyah.
6). Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri.
7). Mencari teman yang baik (shalih).
8). Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap suul khatimah (akhir kehidupan yang jelek).
9). Sabar dan belajar untuk sabar.
10). Berdo’a dan memohon pertologan Allah. [3]

PENUNTUT ILMU TIDAK BOLEH PUTUS ASA DALAM MENUNTUT ILMU DAN WASPADA TERHADAP BOSAN

Sebab, bosan adalah penyakit yang mematikan, membunuh cita-cita seseorang sebesar sifat bosan yang ada pada dirinya. Setiap kali orang itu menyerah terhadap kebosanan, maka ilmunya akan semakin berkurang. Terkadang sebagian kita berkata dengan tingkah lakunya, bahkan dengan lisannya, “Saya telah pergi ke banyak majelis ilmu, namun saya tidak bisa mengambil manfaat kecuali sedikit.”

Ingatlah wahai saudaraku, kehadiran Anda dalam majelis ilmu cukup membuat Anda mendapatkan pahala. Bagaimana jika Anda mengumpulkan antara pahala dan manfaat? Oleh karena itu, janganlah putus asa. Ketahuilah, ada beberapa orang yang jika saya ceritakan kisah mereka, maka Anda akan terheran-heran. Di antaranya, pengarang kitab Dzail Thabaqaat al-Hanabilah. Ketika menulis biografi, ia menyebutkan banyak cerita unik beberapa orang ketika mereka menuntut ilmu.

‘Abdurrahman bin an-Nafis -salah seorang ulama madzhab Hanbali- dulunya adalah seorang penyanyi. Ia mempunyai suara yang bagus, lalu ia bertaubat dari kemunkaran ini. Ia pun menuntut ilmu dan ia menghafal kitab al-Haraqi, salah satu kitab madzhab Hanbali yang terkenal. Lihatlah bagaimana keadaannya semula. Ketika ia jujur dalam taubatnya, apa yang ia dapatkan?

Demikian pula dengan ‘Abdullah bin Abil Hasan al-Jubba’i. Dahulunya ia seorang Nashrani. Kelurganya juga Nashrani bahkan ayahnya pendeta orang-orang Nashrani sangat mengagungkan mereka. Akhirnya ia masuk Islam, menghafal Al-Qur-an dan menuntut ilmu. Sebagian orang yang sempat melihatnya berkata, “Ia mempunyai pengaruh dan kemuliaan di kota Baghdad.”

Demikian juga dengan Nashiruddin Ahmad bin ‘Abdis Salam. Dahulu ia adalah seorang penyamun (perampok). Ia menceritakan tentang kisah taubatnya dirinya: Suatu hari ketika tengah menghadang orang yang lewat, ia duduk di bawah pohon kurma atau di bawah pagar kurma. Lalu melihat burung berpindah dari pohon kurma dengan teratur. Ia merasa heran lalu memanjat ke salah satu pohon kurma itu. Ia melihat ular yang sudah buta dan burung tersebut melemparkan makanan untuknya. Ia merasa heran dengan apa yang dilihat, lalu ia pun taubat dari dosanya. Kemudian ia menuntut ilmu dan banyak mendengar dari para ulama. Banyak juga dari mereka yang mendengar pelajarannya.

Inilah sosok-sosok yang dahulunya adalah seorang penyamun, penyanyi dan ada pula yang Nashrani. Walau demikian, mereka menjadi pemuka ulama, sosok mereka diacungi jempol dan amal mereka disebut-sebut setelah mereka meninggal.

Jangan putus asa, berusahalah dengan sungguh-sungguh, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Walaupun Anda pada hari ini belum mendapatkan ilmu, maka curahkanlah terus usahamu di hari kedua, ketiga, keempat,.... setahun, dua tahun, dan seterusnya...[4]

Seorang penuntut ilmu tidak boleh terburu-buru dalam meraih ilmu syar’i. Menuntut ilmu syar’i tidak bisa kilat atau dikursuskan dalam waktu singkat. Harus diingat, bahwa perjalanan dalam menuntut ilmu adalah panjang dan lama, oleh karena itu wajib sabar dan selalu memohon pertolongan kepada Allah agar tetap istiqamah dalam kebenaran.

[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]
__________
Foote Notes
[1]. Lihat al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal ‘Ilaaj (hal. 22).
[2]. Lihat al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal ‘Ilaaj (hal. 43-71).
[3]. Ibid (hal. 88-119) dengan diringkas.
[4]. Ma’aalim fii Thariiq Thalabil ‘Ilmi (hal. 278-279

Readmore..

Sabtu, 17 Mei 2008

Menikah, Antara Keinginan dan Tujuan

| Sabtu, 17 Mei 2008 | 0 komentar

Fulanah kembali menata dirinya setelah sekian lama larut dalam kesedihan karena merasa dikecewakan. Bangkit dari rasa kehilangan dan kesedihan memang tak mudah. Beruntungnya Fulanah, karena dia punya banyak teman yang peduli dan selalu mendukungnya.

Dari beberapa solusi yang disampaikan teman-teman padanya, Fulanah mencoba untuk mengaplikasikannya. Memang belum sempurna, tapi setidaknya sedikit demi sedikit perasaan menyakitkan itu terobati.

Perenungan panjang yang dilakukannya membuahkan suatu kesimpulan, bahwa apa yang didapatkannya saat ini adalah buah dari kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Fulanah bersyukur karena dia merasa 'dijewer' oleh Allah di dunia ini. Dia mencoba untuk tidak berburuk sangka kepada Allah.

Dia pun terus menambah ilmu, dan yang paling penting menanamkan keyakinan dalam dirinya, bahwa apa yang dialaminya merupakan ketentuan Allah yang terbaik baginya. Ada satu hal yang dia garis bawahi, bahwa dia belum sepenuhnya ikhlas menerima musibah ini. Dia pun tidak cukup sabar menjalaninya. Oleh karena itu, apa yang dirasakannya menjadi beban berat.

Sabar. Ini, memang klise. Tapi itulah yang dapat menolong kita untuk menjalani hidup ini. Ketidaksabaran seseorang dalam mengarungi ujian Allah biasanya lebih disebabkan oleh ketidakmampuannya memahami hikmah apa yang ada di balik musibah itu.

Jika saat ini Allah belum menakdirkan Fulanah menikah, maka Fulanah perlu melakukan evaluasi diri lagi, siapa tahu niatnya untuk menikah belum benar. Niat yang benar ini akan sangat mendukung terwujudnya pernikahan yang berkah. Seorang ustadz pernah menerangkan bahwa nikah yang berkah itu diawali dengan niat yang benar dan doa. Tapi, cukupkah?

Dalam hal ini perlu ada satu pembahasan tentang tujuan menikah.Motivasi dan tujuan seseorang untuk menikah bisa jadi berbeda dengan yang lainnya. Ada yang mengaku bahwa dorongan usia lebih mendominasinya untuk menikah. Ada juga yang merasa bahwa dia membutuhkan seseorang yang dapat mendampingi hidupnya, berbagi suka dan duka. Dan ada juga yang berpandangan bahwa tujuannya menikah adalah untuk regenerasi.

Apakah hanya itu tujuan menikah? Ada tujuan yang lebih utama hanya sekadar memiliki seseorang untuk dipanggil mama atau papa. Pertama, melaksanakan perintah Allah. Anjuran untuk menikah ini tertuang dalam surat an-Nuur [24]:
32,

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui."

Kedua, Melaksanakan perintah Rasul-Nya.
"Barang siapa yang mampu menikah, tetapi tidak menikah maka dia bukanlah termasuk golonganku." (HR Thabrani dan Baihaqi).

Ketiga, ada pernyataan bahwa tujuan menikah itu untuk 'Alwaduud wal waluud', yaitu sebagai cerminan kasih sayang dan melahirkan banyak anak.

Artinya, tujuan memelihara keturunan dan memperbanyak umat bisa tercapai melalui sebuah pernikahan.
"Menikahlah kamu dengan beranak turun, sungguh aku bangga dengan banyaknya kamu sebagai umatku di hari kiamat nanti." (HR Baihaqi).

Keempat, memelihara akhlak diri. "Pernikahan itu akan dapat lebih memelihara pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa belum mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa karena sesungguhnya berpuasa itu dapat jadi tameng mengalahkan hawa nafsu." (HR Bukhari Muslim).

Kelima, menumbuhkan ketenangan jiwa. Untuk tujuan yang satu ini pastinya banyak orang yang mengetahui termasuk yang lajang sekalipun. Ayat yang menerangkan tentang hal ini kerap mengisi undangan pernikahan. Memang betul bahwa pernikahan itu merupakan salah satu jawaban dari masalah kegalauan hati karena Allah menjanjikan hal itu.

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui" (QS ar-Ruum [30]: 21).

Masih banyak lagi tujuan mulia lainnya, seperti mempertebal rasa kebapakan dan keibuan, memperluas dan memperkokoh persaudaraan, serta menjadi media ujian kualitas diri.

Dengan tujuan-tujuan tersebut, semoga Allah menganugerahkan kepada kita pernikahan yang berkah dan tentu saja harus kita siapkan dari sekarang dengan memilih pasangan berdasarkan agamanya, keturunan dan kemuliaannya, mengutamakan orang jauh dalam kekerabatan, dan mengutamakan perawan yang subur.

Demikan Rasulullah menjelaskan langkah-langkah menuju pernikahan berkah. Dan semoga Fulanah dan Fulan di manapun berada mendapatkan apa yang dicita-citakan, yaitu pernikahan yang berkah. Billahi fii sabilil haq.n inas/mqp

( )

RepublikaOnline

Readmore..
 
© Copyright 2010. yourblogname.com . All rights reserved | yourblogname.com is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com - zoomtemplate.com